Cara Pembibitan Lada
Pe
rbenihan
d
an Budidaya Lada Perdu
Sirkuler
Informasi Teknologi Tanaman Rempah dan Obat
1
PENDAHULUAN
Tanaman lada (
Piper nigrum
L) saat in (± 98%) masih menjadi pilihan usaha oleh
petani. Produktivitas lada sangat dipengaruhi oleh harga lada di pasaran, sehingga rentan
terhadap fluktuasi harga. Saat harga lada turun drastis, petani enggan mem
elihara tanaman,
sehingga tanaman tidak terawat, banyak yang mati, atau diganti dengan komoditas lain,
akibatnya produktivitas lada secara nasional turun. Selain itu, budidaya lada di sentra
produksi lada di Kepulauan Bangka
-
Belitung dan Kalimantan, menggu
nakan tiang panjat
mati. Salah satu komponen budidaya lada yang relatif mahal adalah penggunaan tegakan kayu
sebagai tiang panjat. Oleh karena itu, untuk meningkatkan efisiensi dan meningkatkan
produksi nasional perlu dicari alternatif cara budidaya yang l
ebih murah dan tanpa
menurunkan produktivitas tanaman, yang diantaranya dengan budidaya lada perdu.
Beberapa keuntungan menanam lada perdu diantaranya tidak memerlukan tiang panjat,
pemeliharaan lebih mudah dan murah, tidak memerlukan lahan yang luas, dapa
t ditanam
dalam pot, mudah dalam pemanenan dapat dikembangkan di antara/dibawah tegakan tanaman
tahunan, atau tumpangsari dengan tanaman semusim, sehingga penggunaan lahan lebih
efisien. Meskipun produktivitas lada perdu relatif rendah (0,4
-
0,5 kg lada k
ering/tahun) dan
baru mulai dipanen pada umur 2 tahun, tetapi populasi persatuan luas cukup tinggi (± 4000
-
4500 tanaman/ha), sehingga produksi per hektar hampir setara dengan tanaman lada panjat.
Selain itu pemeliharaan lada perdu relatif lebih mudah dan m
urah dibanding lada panjat,
sehingga biaya produksi dapat ditekan.
Beberapa aspek agronomi yang membedakan
antara
budidaya lada perdu dan lada p
a
n-
jat adalah pada penyiapan dan perbanyakan bahan tanaman, pendederan dan pembibitan,
p
e
meli
haraan, dan panen.
A
spek lainnya seperti pengendalian hama penyakit dan pasca panen
pada tanaman lada perdu sama dengan lada tiang panjat (Syakir, 2008).
BAHAN TANAMAN
Bahan tanaman untuk lada perdu dapat berasal dari setek cabang bertapak
maupun
setek
cabang buah/produks
i
. Persyaratan mutu benih lada telah dituangkan dalam
SNI 01
-
7155
-
2006
meliputi s
pesifikasi persyaratan kebun induk
(Tabel 1), persemaian (Tabel 2)
,
dan mutu
benih (Tabel 3)
Dadang Rukmana, Agus Wahyudi dan Hera Nurhayati
2
Sirkuler
Informasi Teknologi Tanaman Rempah dan Obat
Tabel 1. Persyaratan kebun induk lada
No.
Jenis Spesifikasi
Persyaratan
1.
K
emurnian varietas (%)
≥ 98
2.
Umur pohon induk (bulan)
≥ 7
3.
Kesehatan tanaman terpilih (%)
100
Sumber : SNI
01
-
7155
-
2006
Tabel 2. Persyaratan persemaian lada
No
Jenis Spesifikasi
Persyaratan
1.
Kesehatan lingkungan (%)
100
2.
Intensitas sinar matahari (%)
50
-
75
3.
Suhu
udara (
C)
22
-
30
4.
Kelembaban (RH) (%)
80
5.
Kelengasan tanah (%)
80
-
100
Sumber :
SNI
01
-
7155
-
2006
Tabel 3. Persyaratan mutu benih lada
No.
Jenis Spesifikasi
Persyaratan
1.
Benih murni (%)
100
2.
Kesehatan benih (%)
100
3.
Jumlah ruas (lada panja
t)
5
-
7
4.
Jumlah daun (lada perdu)
5
-
8
5.
Asal benih (ruas ke ... dari pucuk)
≥4
Sumber :
SNI
01
-
7155
-
2006
Varietas Lada
Varietas yang di
tanam
harus jelas
asal usulnya
dan merupakan varietas unggul. Balai
Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) telah melepas
8
varietas lada yaitu Petaling
1, Petaling 2, Natar 1, Natar 2, Ch
unuk RS, LDK RS, Bengkayang dan Malonan 1 dengan
karakteristik tertera pada Tabel 4. Varietas Malonan 1 merupakan lada lokal Kalimantan
Timur yang baru dilepas. Petaling, Bengkayang, Chunuk, LDK dan Malonan 1 biasanya
diproses menjadi lada putih, sedangka
n varietas Natar diproses menjadi lada hitam.
Tabel 4. Karakteristik delapan varietas lada
No
Varietas
Karakteristik
Produksi*
(ton/ha)
Kadar
Minyak
(%)
Ketahanan terhadap
penyakit
Daya adaptasi terhadap
Busuk pangkal
batang
Kuning
Cekaman
Air
Kelebihan
air
1.
Petaling 1
4,480 (Lp)
3,68
Rentan
Medium
Sedang
Sedang
2.
Petaling 2
4,120 (Lp)
4,61
Med
i
um
-
rentan
Rentan
Tinggi
Sedang
3.
Natar 1
4,000 (Lh)
3,27
Med
i
um
-
toleran
Rentan
Sedang
Sedang
Pe
rbenihan
d
an Budidaya Lada Perdu
Sirkuler
Informasi Teknologi Tanaman Rempah dan Obat
3
Tabel 4.
Lanjutan
No
Varietas
Karakteristik
Prod
uksi*
(ton/ha)
Kadar
Minyak
(%)
Ketahanan terhadap
penyakit
Daya adaptasi terhadap
Busuk pangkal
batang
Kuning
Cekaman
Air
Kelebihan
air
4.
Natar 2
3,520 (Lh)
3,13
Rentan
Medium
Sedang
Kurang
5.
Lampung Daun Kecil RS
3,685 (Lp)
3,83
Toleran
Rentan
S
edang
-
6.
Chunuk RS**
1,970 (Lp)
3,65
Toleran
Rentan
-
-
7.
Bengkayang LU
4,669 (Lp)
3,68
Toleran
Medium
-
-
8.
Malonan 1
2,170 (Lp)
2,35
Toleran
Toleran
-
-
Keterangan :
Lp = Lada putih; Lh = Lada hitam
*Hasil dari 1 x panen
**Chunuk berbuah terus me
nerus
Sumber : Syakir (2002), Disbun Kalimantan Timur dan Balittro (2015)
PENYIAPAN BENIH LADA PERDU
Lada perdu diperbanyak dengan menggunakan cabang buah, sehingga pertumbuhannya melebar
dengan tajuk berbentuk perdu berdiameter ± 1,5 m, tinggi tanaman ±
1 m dan tidak memerlukan tiang
panjat untuk pertumbuhannya.
Bahan tanaman
yang
berupa setek cabang bertapak maupun dari setek cabang buah/produksi
harus diambil dari pohon induk yang sehat (bebas hama
dan
penyakit). Varietas lada yang digunakan
berasal da
ri varietas unggul
.
A.
Persyaratan
L
ahan
Persyaratan lahan untuk pembibitan lada perdu adalah sebagai berikut : (1) relatif datar, (2)
dekat dengan sumber air, (3) dekat dengan kebun produksi, (4) mudah dalam pengangkutan
(transportasi), dan (5) relatif beba
s dari serangan atau gangguan hama/penyakit.
K
ebe
r
hasilan produksi
benih merupakan interaksi antara faktor mutu benih dan lingkungan tumbuh. Benih yang baik tidak
akan
mampu berproduksi optimum bila tidak
didukung
dengan
pengelolaan lingkungan tumbuh yang
optimal.
B.
Persiapan Media Tanam
d
an Lahan
1.
Media tanam merupakan campuran tanah bagian atas (
top soil
) dan pupuk kandang
yang sudah matang dengan perbandingan 2:1
dan
dimasukkan ke
dalam polibag
beruk
u
ran 15
cm
x 20 cm (Gambar
1
).
Dadang Rukmana, Agus Wahyudi dan Hera Nurhayati
4
Sirkuler
Informasi Teknologi Tanaman Rempah dan Obat
Gam
bar 1. Pengisian
media tanaman lada perdu ke
polibag
2.
Polibag yang sudah diisi media tanam disusun di
bawah rangka bambu (sungkup yang
ditutup plastik). Ukuran sungkup adalah tinggi 1 m, lebar 1,2 m dan panjang sungkup
disesuaikan dengan lahan yang tersedi
a
(
tergantung kebutuhan
)
. Sungkup plastik
disusun rapi dan dinaungi paranet dengan intensitas sinar matahari 75% (Gambar 2).
3.
Media tanam dibiarkan selama ± 2 minggu atau sampai
dit
umbuh
i
rumput yang
menandakan bahwa
media telah siap untuk ditanami
(Gambar
2).
Gambar 2.
Media tanam disu
sun dalam rangka sungkup plasti
k
(kiri) dan siap ditanami (kanan)
C.
Persiapan Bahan Tanaman
Bahan setek diambil dari tanaman yang sehat (bebas serangan hama dan penyakit).
Cabang yang dipilih sebaiknya tid
ak terlalu tua
namun
sudah berkayu. Bagian tanaman yang
baik untuk setek adalah yang berasal dari cabang
buah/
produksi (Gambar 3d), sedangkan
Pe
rbenihan
d
an Budidaya Lada Perdu
Sirkuler
Informasi Teknologi Tanaman Rempah dan Obat
5
sulur gantung (Gambar 3a), sulur cacing (Gambar 3b)
,
maupun sulur panjat (Gambar 3c)
kurang baik untuk dijadikan
benih. Pengambilan bahan setek sebaiknya dilakukan antara jam
11.00
–
12.00
,
karena pada waktu tersebut kandungan karbohidratnya paling tinggi
,
sehingga
akan memacu pertumbuhan akar dan tunas setek (Syakir dan Zaubin, 1994).
(a)
(b)
(c)
(d)
Gamb
ar 3.
Bahan benih lada
(a) sulur gantung, (b) sulur cacing, (c) sulur panjat, (d) cabang
buah/produksi
Bahan setek dapat berasal dari cabang buah primer, sekunder dan tersier, yang diambil
dari tanaman lada biasa atau dari pohon lada perdu. Setek yang dih
asilkan bisa berbentuk
setek cabang bertapak atau setek cabang buah/produksi. Setek cabang bertapak (Gambar 4)
yaitu setek yang berasal dari cabang primer dengan menyertakan satu buku sulur panjat yang
berakar dengan membuang tunas tidurnya (tanda panah m
erah) supaya tidak terbentuk lagi
sulur panjat. Daun tetap dibiarkan menempel pada setek sebanyak
5
-
10 helai daun utuh.
Untuk antisipasi kekeringan, setek cabang bertapak dapat pula menyertakan 2
-
3 buku
(Gambar 5). Buku yang lebih banyak akan membentuk pe
rakaran yang lebih banyak,
sehingga tanaman lebih tahan terhadap kekeringan.
Setek cabang buah/produksi diambil dari setek cabang sekunder dan tersier. Setek
dipotong diatas bagian buku yang membengkak (Zaubin
et al
., 1994). Panjang setek ± 20 cm
dengan
menyertakan daun ± 15 helai daun utuh tanpa dipotong (Gambar 6a).
Setek cabang
buah/produksi dikerat melingkar pada bagian pangkalnya dengan menggunakan gergaji besi
atau pisau cutter (Gambar 6b). Pengeratan melingkar dilakukan di 2
-
3 tempat, dengan jarak
½
cm mulai dari pangkal setek (Zaubin,
et al
., 1994).
Dadang Rukmana, Agus Wahyudi dan Hera Nurhayati
6
Sirkuler
Informasi Teknologi Tanaman Rempah dan Obat
Gambar 4. S
e
tek cabang bertapak
Gambar 5. Setek cabang bertapak dengan satu, dua dan tiga buku
Pe
rbenihan
d
an Budidaya Lada Perdu
Sirkuler
Informasi Teknologi Tanaman Rempah dan Obat
7
a)
(b)
Gambar 6.
(a) Setek
cabang buah, (b) Pengeratan pada pangkal buku setek cabang
buah/produksi
Pembibitan lada perdu dengan metoda perompesan daun memerlukan waktu 6
-
7 bulan
sampai siap tanam (Rivai
et al
., 2008). Waktu pembibitan dapat dipersingkat dengan metoda
pembibitan
lada perdu tanpa perompesan (daun dibiarkan tanpa dirompes 10
-
15 daun/setek)
kemudian disungkup rapat (tanpa dibuka) selama 3 bulan, sehingga dalam waktu 4 bulan
tanaman sudah dapat dipindah ke lapangan.
D.
Perlakuan Bahan Tanaman
Setek yang telah dipersiapk
an perlu mendapat perlakuan sebelum disemaikan agar
kondisinya lebih baik dan dapat memacu pertumbuhan.
1.
Setek cabang bertapak
Setek cabang bertapak direndam dalam larutan gula pasir 1
-
2% (untuk mempercepat
pertumbuhan tunas dan akar) selama 1
-
2 jam (Zaubi
n dan Sunarti, 1990) dan larutan
fungisida (1
-
2 g/l air), sehingga setek yang disemai bebas dari gangguan peny
a
kit.
2.
Setek cabang buah/produksi
Selanjutnya setek direndam dalam campuran larutan 1
-
2 % gula pasir dan larutan
fungisida 1
-
2 g/lt air selama 1
-
2
jam. Setelah dikeringanginkan, bagian pangkalnya
sampai pada bagian keratan teratas, dicelupkan ke dalam zat perangsang tumbuh untuk
akar, misalnya 2
-
3% IBA (Zaubin
et al
., 1992).
Komentar
Posting Komentar